Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Mbah Mus 77 Tahun

Satu di antara tulisan saya yang viral, dikutip oleh berbagai portal dan dibagi oleh entah berbagai orang, adalah tulisan yang mengkritik Mbah Mus secara terbuka.

Ngaturaken sedaya kelepatan, Mbah Yai.

Sungguh sebenarnya saya tak mendapatkan cela apapun pada diri beliau. Hanya saja terkait persoalan politik dan dinamika dakwah, saya memang banyak berdiri berhadapan dengan beliau.

Saya tidak pernah berguru secara langsung kepada beliau. Pun berjumpa hanya sekali. Tapi berbagai buku yang beliau tulis, nyaris semua sudah saya lahap.

Tulisan-tulisan beliau di Jawa Pos dan berbagai surat kabar, pun nyaris tak pernah saya lewatkan.

Baca Juga : Madza Ta’buduna Min Ba’di

Kini, pada era media sosial, saya ikuti beliau di Twitter. Walau saya jarang aktif di platform ngoceh itu.

Yang paling rajin saya ikuti dan baca, tentu tulisan dan segenap kegiatan beliau di Facebook. Karena saya memang pengguna aktif FB.

Berjumpa secara langsung, secara pribadi memang hanya sekali. Tapi kalau hadir dalam berbagai acara yang beliau menjadi penceramah, tentu sering saya lakukan.

Sekali berjumpa secara langsung, tapi tuwuk. Bagaimana tidak, karena saya berkesempatan melayani beliau. Membuatkan minum hingga mijeti dalam waktu yang cukup lama.

Beberapa tanya pun beliau sampaikan, “Asalmu soko endi?”

“Wes suwi pora nengkene?”

“Piye gurumu, kereng pora?”

Demikianlah, pertanyaan saya jawab menurut kebutuhannya. Tidak kurang dan apalagi lebih. Pun, saya tak bersuara kalau tidak ditanya.

Waktu itu, ketika saya masih ngawulo di Ma’had Teebee, Mbah Mus datang berkunjung dan bermalam di pesantren kami.

Itu karena guru saya, Kiai Luthfi Muhammad memang adalah santri Mbah Mus. Maka saya sering menyebut diri sebagai cucu murid Mbah Mus.

Sejak siang, sebelum Mbah Mus rawuh, saya memang sudah ditugasi untuk melayani beliau. Tentu juga bersama kawan-kawan yang lain.

Tugas pertama saya adalah melepas tulisan larangan merokok di ruang tamu. Sebab kiai saya memang tidak merokok, sedang Mbah Mus ketika itu adalah perokok berat.

Jadi kiai saya merasa tak elok jika melarang guru beliau merokok di rumahnya.

Sampai beliau minta diri untuk bertolak ke Jakarta, saya kembali mencium tangan beliau dengan ta’zhim.

Kelembutan dan tutur yang begitu teratur adalah kesan semua orang yang berjumpa dengan KH. Musthafa Bisri. Pun itulah kesan yang saya dapatkan, di samping kesan-kesan kebaikan lainnya dari seorang kiai yang budayawan dan penyair.

10 Agustus kemarin Mbah Mus genap 77 tahun. Usia yang tak bisa disebut muda lagi. Tapi juga tidaklah terlalu tua untuk seorang yang rajin menulis dan menganyam kata.

Sugeng ambal warsa, Mbah Guru. Teruslah bening dalam Indonesia yang kian keruh. (Abrar Rifai)

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: