Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Mencari Adab Yang Hilang

Manusia sebagai hamba Allah yang baik senantiasa dituntut untuk selalu taat kepada-Nya. Menjauhi segala larangan dan melaksanakan semua perintah-Nya.

Namun bagaimana pun juga, manusia dengan segala keterbatasannya, tak akan bisa untuk sama sekali tidak membangkang. Kecuali mereka para ma’sumin: nabi dan rasul.

Dalam sebuah ungkapan disebutkan, “Wa ma sumiyal insan illa linisyanihi = Tidaklah manusia itu disebut manusia, kecuali karena pembawaanya yang suka lupa.” Karena identik dengan sifat lupa itulah maka kesalahan bagi manusia adalah niscaya.

Manusia adalah makhluk yang berada di antara setan dan malaikat. Setan terkutuk, karena ia selalu salah. Sedang malaikat mulia, karena ia selalu taat.

Manusia kalau bersungguh-sungguh taat, maka ia bisa lebih mulia dari malaikat.

Tapi kalau manusia terus berkubang dengan kesalahan, maka ia bisa jadi lebih setan dari setan.

Kesalahan bagi manusia adalah niscaya. Namun Allah selalu membuka Diri untuk memaafkan kesalahan hambaNya. Untuk itu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Annasu khthta`un, wa khairul khaththa`in attawabun = Manusia itu banyak salah, tapi orang salah yang baik, adalah yang mau bertaubat atas semua salahnya.”

Allah sangat gembira menyambut taubat setiap hambaNya. Kegembiraan yang melebihi gembiranya seorang pengembala yang berhasil menemukan dombanya setelah hilang di tengah hutan belantara.

Kesalahan memang tidak bisa dilepaskan dari manusia. Namun demikian manusia tetap dituntut untuk berupaya tidak melakukan kesalahan. Kalau kemudian memang atas ketidakberdayaannya, ia akhirnya terjerembab pada kesalahan, maka manusia harus segera bangkit memperbaiki kesalahan tersebut.

Bagaimana memperbaiki kesalahan tersebut? Nabi kita Sayyidina Muhammad SAW memberikan tuntunannya, “Wa atbi’ assayyiah alhasanah, tamhuha = Segera lakukan kebaikan sesaat setelah kau melakukan kesalahan. Karena kebaikan itu menghapus kesalahan!”

Kebaikan itu banyak. Lantas kebaikan seperti apa yang dimaksud Rasulullah, yang bisa menghapus kesalahan tersebut? Semua jenis kebaikan bisa menghapus semua bentuk kesalahan. Maka untuk itu, banyak-banyaklah berbuat baik.

Tapi kalau Anda ingin mengetahui kebaikan yang paling baik, coba simak hadis berikut ini. Dari Hasan, dari ayahnya (Ali) dari kakeknya (Rasulullah), beliau bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik kebaikan itu adalah akhlak yang baik!”

Hari ini banyak orang yang suka bersedekah, itu baik. Banyak orang rajin shalat sunnah, itu baik. Banyak orang sergep baca Qur`an, itu baik. Banyak orang semangat menyantuni anak yatim, ini juga baik.

Tapi di sisi lain, semakin banyak orang kurang ajar. Kurang ajar kepada sesamanya. Kurang ajar kepada teman. Kurang ajar kepada saudara. Kurang ajar kepada guru dan orang tua. Padahal kita adalah orang timur yang selama ini dikenal dengan kesantunan dan adab yang tinggi.

Entahlah, apa gerangan yang telah menggerus keberadaban kita. Apa ini karena ketidak-tahuan dan ketidak-sadaran. Ataukah kesadaran yang dilakukan karena terobsesi oleh budaya asing, yang kini mulai menggejala menjadi model sebagian masyarakat.

Maka, saatnya kini kita kembali mengunyah warisan agung leluhur kita: santun dan beradab.

Suatu hari Rasulullah duduk bersama sejumlah sahabatnya. Tiba-tiba masuklah seorang badui. Dia membawa setangkai kurma yang baru dipetiknya. “Ini hadiah untukmu ya Rasulallah!”

Dengan senang hati Rasulullah yang mulia menerima pemberian badui tersebut. “Makanlah, wahai Nabi,” pinta Badui tersebut.

Rasulullah pun segera memetik satu butir kurma dari tangkainya. Beliau memakannya disertai senyum dan ekspresi yang menunjukkan bahwa beliau sangat menikmatinya.

Badui yang melihat Rasulullah melahap kurma pemberiannya, merasa sangat bahagia. Ia tungguin Rasulullah yang terus memakan kurmanya.

Sebutir demi sebutir, hingga setangkai kurma tersebut habis. Para sahabat yang berada di sekitar Nabi merasa heran. Karena tidak biasanya Rasulullah begitu.

Biasanya setiap Rasulullah memperoleh makanan, beliau akan membagikan makanan tersebut kepada para sahabatnya. Baik yang ketika itu ada bersama beliau atau pun tidak. Tapi kali ini tidak. Ajib!

Setelah badui pemberi kurma tersebut pergi, Rasulullah pun menjelaskan kepada para sahabat, “Aku memang sengaja tidak memberikan sebutir pun kurma tadi kepada kalian, sebab aku kahwatir kalian tidak sanggup menahan pahitnya.

“Lho, bukannya Anda tadi begitu menikmati kurma itu, wahai Nabi?” tanya seorang di antara sahabat, heran.

“Itu pun aku sengaja, berbuat seolah-olah kurma itu enak dan manis. Agar badui tadi tidak kecewa.”

Semua hening. Apa yang menjadi keheranan mereka tadi, kini terjawab.

Begitulah, junjungan kita Sayyidina Muhammad –‘alaihis shalatu wassalam– mengajarkan kepada kita untuk tetap menjunjung adab, bahkan untuk satu hal yang sebenarnya tidak beliau sukai. (Abrar Rifai)

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: