Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Biar Kuncupnya Mekar Menjadi Bunga

biarlah bunganya mekar by orangramai

Kalau Anda membaca judul di atas, apakah Anda yakin bahwa saya akan berbicara tentang bunga? Atau akan bicara tentang suatu perkembangan?

Saya akan mengulang penjelasan akhil habib Al Ustadz Salim A. Fillah, tentang pembuatan judul pada satu buku atau tulisan.

Semisal kita membaca surat Al Baqarah dalam Al Qur’an, apakah cerita sapi tersebut menjadi inti dari keseluruhan isi surat tersebut? Tidak.

Menurut Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Shafwatut Tafasir, Al Baqarah sebagian besar berisi hukum-hukum agama: aqidah, ibadah, muamalah, akhlaq, pernikahan, perceraian, iddah dan lain-lain.

Di awal surat, Allah subhanahu wata’ala bercerita tentang karakteristik orang-orang beriman, kafir dan munafiq. Sebagai bentuk pembeda antara kelompok yang (akan) berbahagia dan menderita.

Sebagaimana surat ini juga banyak bercerita tentang penciptaan moyang manusia: Nabiyullah Adam ‘alaihissalam.

Baca Juga : Menanggalkan Ego

Begitu juga judul kitab-kitab klasik, banyak sekali yang tidak menggambarkan isi. Seperti judul-judul kitab fiqh: Ar Riyadhul Badi’ah, Fathul Qarib, Fathul Mu’in dan lain-lain.

Itulah yang mungkin menginspirasi Ustadz Salim ketika memberikan judul buku-bukunya. Maka, sebagaimana kita ketahui: Biarkan Bidadari Cemburu Padamu, Lapis-lapis Keberkahan, Indahnya Pacaran Setelah Menikah dll.

Padahal untuk judul terakhir yang saya sebutkan di atas, menurut Ustadz Salim, itu salah secara bahasa. Sebab setelah menikah itu tidak ada lagi pacaran.

Seperti judul yang saya sematkan di awal tulisan ini: Biar Kuncupnya Mekar Menjadi Bunga. Ini adalah judul tulisan Anis Matta di kolom ayah Majalah Ummi.

Pak Anis memberikan dorongan agar seorang lelaki serius menumbuhkan dan merawat cinta seorang wanita. Ia menganalogikan cinta wanita itu ibarat bunga yang masih belum mekar.

Tugas seorang lelaki membuka kelopak kuncup tersebut, sehingga ia mekar menjadi bunga yang indah.

Begitulah menurut Ustadz Salim A Fillah, bahwa pada suatu tulisan, tidak ada larangan kita membuat judul yang tidak terkait langsung dengan isi tulisan.

Atau kalau mau, judul boleh hanya berupa cuplikan satu dua kata pada keseluruhan isi tulisan.

Jadi kebiasaan sekedar membaca judul kemudian menyimpulkan, mari perlahan-lahan disudahi. Sebab bukan hanya bias. Tapi pasti akan menumbuhkan kesesatan.

Pun, ketika sudah membaca tuntas, ternyata isi tidak bisa memenuhi ekspektasi diri sesuai judul yang dibaca di awal tulisan, janganlah marah-marah.

Sebab kemarahan hanya akan menggerus pengetahuan yang sudah Anda dapatkan pada keseluruhan isi tulisan tersebut. (Abrar Rifai)

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: