Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Poligami Keren Sekali

Sebenarnya maksud dan tujuan Dewan Syariah Pusat PKS itu apik. Memformalkan ajaran poligami dalam kehidupan berpartai dan berpolitik. Agar yang berpoligami tidak lagi sembunyi-sembunyi, agar yang mau kawin lagi tidak lagi takut.

Tak ada aturan yang dilanggar, baik aturan Negara dan terlebih lagi aturan Agama.

Indonesia, sebagai negara tempat mukim PKS saat ini tidak melarang poligami, walau untuk mencatatnya secara resmi, harus seijin pengadilan.

Baca Juga : Hati - Hati Bersosial Media

Islam jelas memperbolehkan penganutnya untuk berpoligami. Bahkan tanpa disertai syarat harus seijin istri pertama. Tidak juga harus seijin pengadilan. Maka karenanya pernikahan sirri untuk poligami itu lebih marak daripada resmi KUA.

Ada banyak yang tersentak saat PKS melakukan pengumuman anjuran poligami bagi kadernya.

Satu hal yang diabaikan publik, termasuk juga mantan kader PKS, bahwa anjuran untuk menikah lagi bagi kader itu, adalah menikahi aramil dan awanis.

Siapa itu awanis, siapa itu aramil?

Aramil (أرامل) adalah jamak dari أرملة yang berarti janda. Itu arti secara umum. Tapi ada juga yang secara spesifik menyebutnya sebagai janda yang ditinggal mati suaminya.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa armal/ah adalah sebutan bagi orang yang hidup terlunta-lunta, tak punya harta dan tak punya keluarga. Sehingga karenanya kita wajib menyantuninya.

Nah, salah satu cara yang tepat untuk memberikan santunan secara berkala, adalah dengan menikahi. Bahkan setelah dinikahi, sudah bukan lagi santunan. Tapi sudah menjadi nafkah yang wajib.

Kira-kira berangkat dari keprihatinan inilah, DSW mengeluarkan keputusan yang tercantum dalam tazkirah nomer 12 itu.

Adapun awanis (أوانس) adalah jamak dari anisah (آنسة). Yang secara umum berarti perempuan dewasa yang belum menikah. Tapi ada juga yang secara khusus menyebutnya sebagai perempuan yang terlambat menikah.

Ringkasnya anisah ini adalah panggilan terhormat bagi perempuan yang seharusnya sudah menikah, tapi belum juga menikah.

Ingat ya, آنسة, bukan أنيسة. Sebab kalau anisah (أنيسة), artinya sudah berbeda. Kapan-kapan kita bahas insya Allah.

Kembali kepada program DSP PKS yang menyeru kadernya untuk menikah lagi dengan aramil atau awanis, sekali lagi ini adalah satu hal yang bagus.

Tapi hal bagus diputuskan pada tempat, waktu dan cara yang tidak bagus, jadinya malah jadi blunder. Itulah yang dialami PKS sekarang. Kasihan!

Ini blunder yang kesekian kalinya, akibat kesalahan turunan yang tetap meyakini bahwa partai adalah jamaah dan jamaah adalah partai.

Sehingga karena kesalahan tersebut, akhirnya mengakibatkan kerancuan antara kebijakan politik, program keluarga dan seterusnya.

Padahal PKS sebagai partai yang konon oposisi, seharusnya fokus menunjukkan diri sebagai oposisi yang sesungguhnya. Bantai itu seluruh kebijakan Pemerintah yang tidak pro rakyat!

Lakukan dengan sungguh-sungguh dalam kerja-kerja yang nyata di Parlemen. Bukan sekedar lips servis di media. Apalagi sekedar ocehan di Twitter.

“Sudah (disepakati), saya sebagai ketua sudah tanda tangan, ibu-ibu sudah melakukan kajian, sudah koordinasi dengan Presiden PKS, ada masukan-masukan, minggu kemarin dan baru bismillah saya tanda tangan,” kata KH. Dr. Surahman Hidayat dalam keterangannya yang dilansir banyak media.

Lebih jauh lagi, Ustadz Surahman menjelaskan bahwa program tersebut telah melalui kajian yang mendalam dengan membentuk Komisi Keluarga Sakinah. Dijelaskan juga bahwa komisi tersebut mayoritas beranggotakan perempuan. Para perempuan itulah yang berdiskusi dan berkomunikasi.

Seakan Ustadz Surahman ingin memberikan penjelasan bahwa representasi perempuan di internal PKS sudah sepakat dengan program poligami tersebut. Begitukah?

Tapi entah kenapa, program yang telah diyakini kebaikan dan kemaslahatannya itu hanya seumur laron. Ganas sebentar, tapi kemudian mati bergelimpangan tersulut lampu neon yang mereka kerubungi.

Padahal karena program menarik itu, sudah banyak para peniat poligami yang selama ini masih takut, berniat masuk PKS. Bahkan tak sedikit di antaranya yang merupakan mantan kader PKS.

Saran saya, lain kali kalau mau buat program-program yang strategis, cobalah dikaji yang serius terkait maslahat dan juga dampaknya secara politik. Sebab PKS ini adalah partai politik, bukan majelis pengajian.

Atau kalau masih mau, cobalah sesekali minta saran Anis Matta dan Mahfudz Sidik yang sukses berpoligami tanpa harus ada program khusus yang dibuat partai.

Jadi poligami jalan terus: sakinah mawaddah warahmah, partai pun bisa terus melejit! (Abrar Rifai)

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: