Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Pak Lutfi Ardhobi, Sekretaris PA 212 Malang berkirim pesan ke saya. “Ustadz, PKS ngajak kita ketemu, bagaimana?” tulisnya.

”Dalam rangka apa?” tanya saya.

“Awalnya sih silaturrahim biasa. Tapi mungkin juga terkait pencalonan Ustadz Imam Syafi’i sebagai Bupati Malang.”

Mendapat jawaban itu, saya berpikir, ini apa kaitannya dengan PA 212?

Kemudian, ini Ustadz Imam, mau nyalon memang punya kursi?

Sebab setahu saya, untuk periode ini PKS sama sekali tidak punya kursi di Kabupaten Malang.

Berbagai pertanyaan berkelebat. Secara pribadi saya kenal baik dengan Ustadz Imam Syafi’i. Waktu beliau terpilih menjadi anggota dewan untuk pertama kalinya Tahun 2004, saya adalah salah seorang yang bertungkus lumus untuknya.

Pun, saat beliau terpilih lagi menjadi anggota dewan pada Tahun 2009. Saya tetap mendukung dan memperjuangkan beliau agar terpilih. Kebetulan memang berangkatnya dari Dapil saya: Lawang, Singosari dan Pakis.

Pada Tahun 2014, beliau pindah Dapil. Saya tidak bisa lagi mencoblos beliau. Tidak juga berkampanye untuknya. Ustadz Imam tidak terpilih.

Tahun 2019, Ustadz Imam menjadi Caleg DPR-RI dari Dapil Malang Raya. Saya coblos dan saya dukung beliau. Sebagai Ketua PA 212 Malang, saya pun merekomendasikan beliau untuk dipilih.

Tapi qaddarallah, beliau tidak terpilih. Padahal Pak Dwi Caleg Provinsi yang juga saya coblos dan saya dukung, alhamdulilah terpilih.

Yang saya heran, ketika Ustadz Imam dan tim ingin ketemu PA 212 Malang Raya, kenapa tidak kontak saya langsung? Padahal kita ini kenal baik.

Dengan Pak Irfan Ketua DPD pun saya kenal baik. Pun, sebagian besar struktur DPD PKS Kabupaten Malang, insya Allah masih teman-teman lama saya.

Tapi saya berusaha untuk mengerti. Mungkin karena mereka sudah menganggap saya Garbi, sehingga ada kikuk untuk berkomunikasi. Padahal walau bagaimanapun pun, pada Pemilu 2019 yang lalu, saya masih mendukung PKS!

Untuk menunjukkan bahwa saya memang tidak ada masalah dengan teman-teman ini, saya bilang pada Pak Lutfi, “OK!”

Akhirnya setelah beberapa kali otak-atik jadwal, pertemuan disepakati jam satu siang, hari Rabu, 22 Januari 2020. Bertempat di kantor DPD PKS Kabupaten Malang.

Saya sendiri niat bertemu mereka, pertama ingin melepas rindu. Yang ke dua, barangkali ada kebajikan yang bisa disinergikan bersama.

Paling, nanti kalau bicara terkait pencalonan Ustadz Imam sebagai Bupati Malang, akan saya tembak! Haha

Tapi qaddarallahu, Rabu pagi, Habib Umar Alattas, Nazhir Pondok Pesantren Babul Khairat, tempat saya berkhidmat memanggil saya. Beliau ngajak rapat hari itu juga. Dengan jam yang sama, jam satu siang.

Tentu saya tidak bisa menolak. Bahkan mengajukan untuk menggeser jam saja, tidak mungkin. Andai saya ada janji dengan Jokowi pun, pasti akan saya batalkan! 

Maka, menjelang siang, saya kabari Pak Lutfi agar jalan aja dulu. Kontak teman-teman yang lain. “Nanti sehabis rapat di pondok, saya nyusul,” kata saya pada Pak Lutfi.

Sekali lagi qaddarallahu, rapat di pondok ternyata sampai sore. Seusai rapat, saya kontak Pak Lutfi yang sudah nyampe rumah.

Saya tanya dia, “Siapa saja yang hadir?”

“Berdua aja, saya dan Pak Dadik,” jawabnya. Pak Dadik ini adalah Bendahara PA212 Malang. Beliau masya Allah, banyak membantu perjuangan kita.

Saya tanya, apa saja yang dibicarakan. Ini itu, bla bla dan seterusnya. Pak Lutfi memberikan keterangan. “OK!” kata saya.

Keesokan harinya, saya menerima beberapa BC WhatsApp, foto Pak Lutfi dan Pak Dadik bersama Ustadz Imam dan jajarannya, sebagaimana gambar terlampir.

Macam-macam pertanyaan yang datang ke saya. Semisal, “Kok Antum gak ikut, Ustadz?”

“Ini serius, PA 212 dukung Pak Imam?”

DLL pertanyaan ragamnya.

Saya jelaskan bahwa gak pernah ada dukungan PA 212 secara institusi. Itu silaturrahim biasa aja.

Tapi saya mencoba untuk tidak reaktif. Saya biasa aja. Apalagi mereka ini teman-teman saya semua.

Sampai akhirnya Pak Dadik tadi pagi telpon saya. Beliau tidak berkenan fotonya ditampilkan dengan caption seakan-akan memberikan dukungan politik seperti itu.

Saya pun telpon Pak Lutfi, meminta keterangan lebih lanjut tentang pembicaraan pada pertemuan tersebut.

Jadi, baik Pak Lutfi atau Pak Dadik, tidak ada pernyataan secara eksplisit yang memberikan dukungan politik secara langsung kepada Ustadz Imam. Apalagi mengatasnamakan PA212. Tentu tidak semudah itu, sebab sebagai ketua, tentu itu harus sepertujuan saya.

Intinya sebenarnya baik Pak Lutfi dan Pak Dadik, secara umum akan memberikan dukungan kepada siapa saja, calon muslim yang akan maju menjadi Bupati. Termasuk orang baik dan sholeh seperti Ustadz Imam.

Tapi seharusnya jangan buru-buru diterjemahkan sebagai dukungan politik yang sudah final. Sebab segala sesuatunya harus kami bicarakan dulu. Apalagi Ustadz Imam, entah bisa maju benar atau tidak. Sebab sekali lagi, PKS tidak punya kursi di DPRD Kabupaten Malang.

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: