Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Anis Matta jago membuat peta. Peta jalan sederhana, yang semua orang bisa melaluinya. Tidak terlampau mendaki, tak juga curam menurun. Memang sedikit berkelok, tapi bukanlah tikungan tajam.

Anis Matta idealis, tapi tetap realistis. Sentiasa siap berdiskusi, dengan argumentasi yang disesuaikan dengan minda lawan bicara.

Anis Matta tidak gagap menghadapi berbagai kenyataan yang seringkali terjadi tiba-tiba. Tidak menyederhanakan masalah, tapi tak juga mendramatisir persoalan.

Pernah berada pada sisi yang sangat kanan, tapi tak canggung bergumul dengan mereka yang berbaris pada sisi kiri. Walau pada akhirnya, Anis berkeyakinan bahwa tengah itulah yang terbaik.

Baca Juga : Terlambat Sadar 

“Khairul umur, ausathuha!“Posisi tengah itu juga menjadi berkumpulnya banyak orang. Tengah itu adalah rata-rata adanya manusia. Tempat berpadunya beragam orang. Memang butuh kecakapan tersendiri untuk tegak berada di antara mereka.

Sejauh ini, Anis Matta sanggup melakoni posisi tersebut. Bertemu dengan orang-orang kaya, ia bisa menampakkan jam tangan yang dianggap mahal.

Bersama orang-orang miskin, ia enjoy saja makan nasi bungkus, duduk beralas rumput. Semuanya alami, tak dibalut kamuflase, seperti orang yang sedang berjibaku mencari perhatian.

Sudah terlalu benderang gagasan Anis yang akhirnya dikunyah juga oleh mereka yang dulu menuduhnya kedunyan. Terbuka itu bukan telanjang. Berani bicara itu bukan ngomel.

Masuk pada belukar itu bukan terbelit. Berani menyelam itu bukan tenggelam. Terbang itu bukan hilang. Itu yang banyak diulang Anis Matta pada kawan-kawannya sejak dahulu kala.

Tapi sayang, tak banyak yang mau mengerti. Bukan tak paham, tapi memang tak sanggup menerima. Ada dua orang datang ke rumah, meriwayatkan untaian cerita: an fulan bin fulan, an fulan, an fulan, qala, “Anis Matta agen Yahudi!“ Tapi rupanya mereka salah orang.

Lha saya kok mau dijejali fiksi, wong saya ini nulis fiksi itu sama mudahnya seperti membuang air seni di tepi kali yang airnya mengalir deras.

Tanpa mengabaikan Fahri Hamzah, Mahfudz Siddiq dan lain-lain, tapi sungguh lolosnya Partai Gelora menjadi peserta Pemilu 2024, tak lepas dari kepiawaian Anis Matta membelah belukar dalam belantara yang begitu lebat.

Lolosnya Partai Gelora menjadi peserta Pemilu, tetap bukanlah garansi bahwa partai ini akan lolos parliamentary threshold. Namun seperti biasa, Anis Matta selalu menatap ke hadapan dengan cerah.

Melakukan yang terbaik, berjuang sekuat mungkin dan berhimpun sepadu mungkin, sentiasa Anis Matta lakukan bersama kawan-kawannya.

Setelah semua dilakukan dengan segenap daya dan upaya, kemudian gantungkanlah segenap harap hanya kepada Tuhan yang menggenggam seluruh kehidupan.

Sebab memang tiada daya dan upaya melainkan datangnya dari Allah yang maha Tinggi dan maha Agung.

Maka ketika Allah telah menetapkan daya dan upaya kepada hamba-Nya yang bernama Anis Matta, pastikanlah bahwa segenap rupa jeruk di alam ini ditimbang jadi satu, tak akan sanggup menghalau laju ayah Hisan tersebut. (Abrar Rifai)

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: