Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Hari Raya di Rumah Sakit

Eidukukum mubarak, eiduku saeed wakullu ‘aam wa Antum ila Allah aqrab. Selamat hari raya Eidul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Taqabballahu minna wa minkum shalihal a’mal.

Selamat berbahagia kawan-kawan sekalian, baik yang mulai hari raya sejak kemarin atau yang baru mula hari ini. Kita semua tetap sepakat bahwa satu Syawwal adalah lebaran kita, perbedaan hari adalah hal lazim di kalangan para ahli ilmu.

Bahkan kita yang awam pun seyogyanya bisa mengerti, karena kejadian ini sudah sering berulang. Rukyah dan hisab tidak usah dibenturkan, karena keduanya punya landasan yang kuat.

Baca Juga : Pesan Lebaran 

Ini adalah hari raya yang paling pilu, sejak saya menikah. Bagaimana tidak, anak-anak saya di rumah harus menyiapakan sendiri keperluan hari rayanya, mulai bangun pagi, mandi sendiri, pakai baju baru dan berangkat ke tempat shalat ied.

Belum lagi sepulang shalat, biasanya kami bareng-bareng makan opor yang dimasak Si Ummi malam harinya.

Tapi hari ini ummi mereka harus nungguin bapak mereka yang masih terkulai lemah di rumah sakit. Sebenarnya saya maunya, setelah mereka shalat Eid, mereka datang ke sini, kita lebaran bareng walau sebentar saja.

Tapi itu tidak mungkin, sebab aturan rumah sakit, anak di bawah enam belas tahun tidak boleh masuk rumah sakit. Terlebih saya masih di CVCU, yang orang dewasa saja dilarang mnejenguk.

Walaupun nanti sudah pindah kamar, tetap saja anak-anak kecil tidak boleh masuk. Maka, saya minta kepada anak-anak, nanti biar datang aja ke sini, cukup di depan RS, kemudian ibunya keluar dan mengajak mereka jalan-jalan di sekitaran Kayu Tangan.

Mungkin makan atau entah apa. Yang penting mereka ketemu ibunya, walau gak ketemu bapaknya. Sebab si bungsu Sumayyah tadi malam sudah telpon, “Gimana kita mau lebaran kalau abi dan ummi tidak ada!”

Mendengar protes Sumayyah, seketika air mata saya menganak sungai. Dia tidak paham apa yang terjadi. Tapi ibunya berusaha menjelaskan, entah dia paham atau tidak, yang pasti setelah itu diam.

Tapi saya sedikit terhibur, tadi malam Ustadzah Fatimah Alatas, Ibu Pengasuh Babul Khairat menelpon, “Ustadz, besok pagi setelah shalat, anak-anak biar ke sini. Makan bareng-bareng sama kita di sini.”

Saya sebenarnya di Babul Khairat bukan siapa-siapa, kerabat bukan, alim juga tidak, tapi keluarga ini begitu menganggap kami bagian dari mereka. Termasuk perhatian kepada anak-anak saya, yang hari ini tidak bisa ditemani ayah dan ibunya. Jazahumullahu khairan.

Sekali lagi, selamat lebaran, Kawan-kawan. Ini adalah hari kebahagiaan, tak layak kita bersedih. Mari kita tanggalkan segenap perbedaan, sebab kesamaan kita masih jauh lebih banyak daripada perbedaan. (Abrar Rifai)

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: