Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Menyeberang Selat Sunda

Perjalanan Menuju Sumatera #4

Sebenarnya selepas Subuh, saya maunya langsung jalan aja. Tapi rupanya istri saya, sesuai kebiasaannya di rumah, pagi-pagi harus memandikan anaknya. Secara memang kamar mandi di rest area ini bersih.

Jadi seusai saya dari masjid, saya dapati Sumayyah dan Fatimah sudah mandi, bahkan sudah pakai bedak. Cantik.

Bahkan Sumayyah, rambut tipis keritingnya sudah dikepang.

Berikutnya ibunya anak-anak meminta saya untuk menunggu Diana dan Fathiya yang sedang mandi. “Wah, kalau seperti ini bakalan lama nih jalannya.”

Tapi memang saya harus menunggu. Sementara Najma, Rifqi dan Ain tidak saya perkenankan mandi. “Nanti aja agak siangan mandinya, kita berhenti di rest area lagi. Abi jiga belum mandi, kok,” kata saya pada mereka.

Baca Juga : Sumatera 3: Malam Pertama

Hari puasa pertama di jalan. Kami sudah bertekad bahwa sepanjang perjalanan ini akan tetap berpuasa. “Yang boleh tidak puasa hanya Ima dan Maya!” tegas saya pada anak-anak.

Ada makanan dan minuman sisa tadi malam, termasuk susu kotak, semuanya itu otomatis menjadi jatah dua krucil tersebut.

Saya melaju di jalan tol dengan kecepatan sedang, antara 80 sampai 100 kilometer perjam (kpj). Hanya sesekali saja, kalau sedang khilaf, bisa sampai 120 – 140 kpj. Maklum sudah biasa ngebut.

Tapi untuk perjalanan kali ini, saya bertekad untuk benar-benar menikmati berkendara bersama anak-anak.

Sepanjang jalan tol, beton-beton kekar yang konon menjadi satu karya terbaik Presiden Jokowi, adalah pemandangan yang menjemukan.

Alhamdulillah, pada banyak ruas, di samping kanan dan kiri masih bisa menyaksikan sawah yang menghijau. Gundukan-gundukan bukit kecil juga tak jarang kami temui.

Kebiasaan saya, pada waktu sahur itu minum banyak. Tentu berakibat kencing yang harus sering dilakukan di pagi hari. Begitu juga pagi ini.

Tapi untuk berhenti di rest area, saya rasa akan mengambil waktu kami cukup banyak. Sebab saya sudah bertekad akan berhenti di rest area Kuningan, sekalian mandi di sana.

Namun rupanya air seni terus mendorong untuk ditumpahkan.

Satu jembatan tetiba saya lewati. Saya seketika minggir. Sebab saya lihat di bawahnya ada sungai kecil yang menghubungkan sawah di sebelah kanan dan kiri jalan tol.

Saya parkir mobil di badan jalan.

Saya turun ke sungai yang airnya sangat dangkal, mungkin sekedar mata kaki. Tapi airnya mengalir dengan baik. Sudah memenuhi kelayakan untuk saya kencing di situ.

“Alhamdulillahilladzi adzhaba ‘annil adza wa ‘afani.”

Waktu masih Dhuha, belum genap Jam 10. Kami pun tiba di rest area Kuningan. Di sana ada masjid, toilet yang biliik airnya banyak.

SPBU juga ada. Sebagaimana para tukang pijat yang biasa mangkal, juga ada seperti biasanya.

“Sek aku tak pijet disek,” kata saya pada ibunya anak-anak.”

“Pijet?” ia terheran.

“Iya, pijet. Iku lho tukang pijet akeh,” saya menunjuk beberapa orang yang duduk beralas tikar, yang tersebar di beberapa titik rest area tersebut.

Saya pilih tukang pijat seorang lelaki tua yang sedang standby di pojok sisi barat lapangan. Karena ini masih musim corona, saya memilih membawa tikar sendiri.

Menyapa, memberi salam kepada bapak tukang pijat. Tikar saya bentang, saya berbaring, beliau pun segera menunaikan tugasnya.

Entah minyak apa yang dioles. Tangan rentanya pun terus menggerayangi dan mengurut tubuh saya.

Namun tak lama kemudian, saya sudah hilang. Saya tertidur, tak ingat lagi apa yang terjadi. Sampai tubuhnya terasa digoyang-goyang. “Tangi, ayo tangi…” sayup terdengar suara yang sangat saya kenal.

Rupanya ibunya anak-anak membangunkan. “Ayo wes, ndang adus. Jam piro iki…”

“Lha Jam piro lho?”

“Wes Jam siji lebih. Sampean wes luwih rong jam turu.”

Kakek tukang pijat hanya tersenyum menyaksikan perbincangan kami di hadapannya.

“Berapa, Pak?” tanya saya padanya.

“Terserah, Pak. Seikhlasnya aja.”

“Biasanya berapa?”

“Tujuh lima juga boleh…”

Saya pun meminta istri saya untuk memberinya 150 ribu.

Bergegas menuju kamar mandi, yang berjarak agak jauh dari tempat parkir mobil saya. Saya lihat Rifqi, Najma dan Ain sudah pasa mandi.

Mandi sudah.

Pijat sudah.

Tidur juga sudah.

Shalat zhuhur jamak taqdim dengan asar pun sudah.

Yang penting juga, solar sudah saya isi.

Badan menjadi lebih segar dan serasa makin prima. Siap untuk lanjut jalan menuju pelabuhan Merak.

Saya yang tidak tahu jalan, memang harus mengandalkan GPS dari Google Map atau Waze.

Kali ini saya pakai waze. Sebab untuk jalanan di daerah perkotaan, konon map ini lebih akurat daripada Google Map.

Terus saya ikuti. Jakarta Lewat.

Masuk Banten: Tangerang, Cilegon dan lain sebagainya terlampaui, hingga petunjuk di layar head unit saya menunjuk satu arah: Merak.

Adzan Maghrib berkumandang, sementara Merak masih tersisak jarak delapan kilo meter lagi.

Sembari tetap jalan, kami berbuka dengan air putih dan kurma yang sudah kami siapkan sebelumnya.

Berjumpa dengan rest area, saya berhenti. Saya ajak anak-anak makan. “Kita di sini makan aja, tidak usah shalat. Shalat nanti aja di Lampung, kita jamak ta`khir,” saya memberi instruksi kepada segenap pasukan… “Jadi nanti habis makan, langsung masuk mobil lagi!”

Mereka patuh. Begitu usai makan, saya menuju kasir, mereka sudah bergegas menuju mobil.

Sampai di pelabuhan Merak, saya masih buta. Bagaimana naik kapal dan bahagaimana mendapatkan tiket.

Saya dihadang seorang petugas. “Sudah punya tiket, Pak?” tanyanya.

“Belum.”

“Silakan beli on-line dulu, Pak,” ia memberitahu.

“Kalau langsung beli di loket, gak ada kah, Pak?”

“Gak ada, Pak. Semua sekarang harus online. Tapi kalau bapak mau dibantu, itu ada yang bisa membantu,” ia menunjuk seorang yang sedang berdiri di antara dua jalan masuk menuju pelabuhan.

Mobil segera saya arahkan padanya. Tak lama saya tanya bertanya, deal. Saya sudah lupa berapa tarif yang dia sebutkan. Tapi yang pasti, langsung saya iyakan. Saya tak hirau apakah harga ini di atas harga resmi atau tidak.

Tak sampai lima menit, ia sudah mengirim screenshot tiket tersebut ke HP saya melalui WhatsApp. “Nanti langsung aja, Pak. Tunjukkan barcode itu, ditukar dengan tiket,” ujarnya.

Asiyaaaap. Saya terus bergegas.

Pos tiket terlampaui, sampailah saya pada deretan kendaraan yang berebut masuk kapal. Ada banyak petugas yang memberi instruksi.

Dengan kemampuan zig-zag, saat dulu saya jadi sopir angkot, tak kesulitan saya untuk bisa berebut dulu-duluan masuk kapal.

Everest Silverqueen pun bisa masuk kapal dengan sukses. Anak-anak berseru, “Yeeeeey… Kita naik kapal!”

Setelah di atas kapal, kembali saya diarahkan oleh para petugas untuk membawa mobil ke lantai dua. “Di sini tempatnya truk, Pak,” akta seorang petugas.

Saya lihat jembatan gantung yang menjadi jalan mobil menuju lantai dua begitu kokoh. Mobil saya menaiki jembatan tersebut tak mengalami kesukitan apapun. Mobil OK, pemandunya pun OK.

Sampai di lantai dua, mobil saya parkir. Semua penumpang saya ajak turun, untuk menuju ruang penumpang.

Angin laut yang begitu saya akrabi menyapa dengan mesra. Seakan berbisik, “Abrar, sekitar dua jam ke depan, aku akan membelaimu.”

Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera pun kami arungi. Krakatau atau anak Krakatau tak tampak. Entah memang tak kelihatan dari perlintasan ini, atau ia bersembunyi di dekap malam. (Abrar Rifai)

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: