Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Di Lampung Makan Kebuli Juga

Satu di antara orang yang ketika meninggal dunia saya tangisi, adalah KH. Abdul Wahid. Kiai yang akrab disapa Gus Wahid ini terkenal dengan sebutan kiai Arema.

Dari sebutannya jelas beliau adalah Arek Malang asli. Bukan sekedar Arema, tapi beliau adalah kiainya Arema. Sebab beliau akrab dan mesra dengan supporter Klub Arema yang lazim disebut Aremania.

Ceramahnya merakyat. Mudah dipahami oleh orang awam, tak terkecuali anak-anak muda pecinta bola seperti Aremania.

Saya akrab dengan beliau, karena kebetulan salah satu putri beliau pernah mondok di Babul Khairat. Terlebih juga dalam banyak hal, Gus Wahid seringkali berada pada satu barisan dengan saya.

Dengan PKS, Gus Wahid adalah salah seorang Gawagis yang bisa menerima PKS dengan baik. Termasuk saat beliau tahu pasti bahwa PKS itu berafiliasi sosial kepada gerakan Ikhwanul Muslimin.

Baca Juga : Berkemah di Rest Area

Itu pula yang mungkin menjadikan sebagian orang NU begitu antipati kepada beliau, sebagaimana dikeluhkan adik beliau, Ning Evi Ghozaly .

Tanpa melalui Gus Wahid, saya berkawan dengan Ning Evi. Entah gimana ceritanya, tapi yang pasti ning yang satu ini memang mudah bergaul, sebagaimana abang beliau.

Bahkan belakangan saya mungkin jadi lebih akrab dengan Ning Evi daripada dengan Gus Wahid. Makanya ketika pada suatu petang saya dan Ning Evi mendatangi Gus Wahid di tempat pengajiannya, ia kaget. “Lho, kok iso kenal iki?”

Ning Evi sekarang tinggal di Lampung, mengikuti suami beliau yang bertugas di Propinsi ujung timur Sumatera tersebut.

“Pokok,e Gus, menawi nJenengan ten Lampung, wajib pinarak ten griyo,” katanya.

Makanya, ketika saya sudah berada di Lampung, saya jadi galau. Ini mau singgah, bisa mengganggu perjalanan. Sebab kalau singgah rumah beliau, pasti akan menyembelih kambing.

Tapi kalau tidak ngabari, pasti beliau akan marah. Seperti kemarahan seorang ibu yang melihat anaknya nyolong buah mangga milik tetangga.
*

Karena kami merasa sudah banyak menggunakan air di rest area yang kami tempati camping. Saya minta pada rombongan untuk tidak mandi di situ.

Maka selepas shalat Subuh, kami pun packing. Ringkes-ringkes semuanya. Melipat tenda dan lain sebagainya.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan.

Saya mencari gerbang terdekat untuk keluar tol. “Kita ke Bandar Lampung lewat jalan biasa aja, biar bisa menikmati pemandangan,” kata saya pada anak-anak dan ibunya.

Kami terus berjalan. Menyaksikan tegalan yang ditumbuhi beragam pohon. Termasuk juga kelapa. Tapi selebihnya banyak yang hanya berupa tanah lapang aja. Padang.

Kebun sawit masih belum kami jumpai. Padahal Sumatera indentik dengan sawit, seperti kebanyakan daratan di Malaysia.

Kami melintas di satu papan nama yang memberi tahu keberadaan pantai: Pantai Pasir Putih. Saya ajak anak-anak, “Kita ke situ saja.”

Ada juga keterangan bahwa di tempat itu adalah arena latihan Tentara.

Memang saat kami sampai pintu masuk, ada tentara yang ikut berjaga di loket.

Pantai sepi. Mungkin karena masih bulan puasa.

Setelah saya parkir, seorang mendekati kami, menawari untuk menyeberang ke satu pulau yang dia tunjuk.

Kami tidak mau. Biar anak-anak main di pantai, sementara saya memilih tidur. Saya menggelar tikar, terus nggeletak.

Setelah dirasa cukup, kami terus jalan.

Masuk Bandar Lampung, kami belum tahu mau kemana. Saya muter-muter aja, sekedar melihat-lihat ibukota Provinsi Lampung tersebut.

Berikutnya saya cari masjid. Sepertinya masjid yang terbesar di kota ini adalah Masjid Agung Al Furqon. Sayapun mengarahkan GPS menuju masjid tersebut.

Kami bersih-bersih diri di situ. Semua rombongan saya suruh semua mandi dan ganti baju. Kamar mandinya nyaman, tempat luas dan orang-orangnya ramah.

Saya shalat menunggu Asar, mau saya jamak ta`khir. Biar asarnya bisa ikut berjamaah dengan orang-orang di sini.

Bukan sekedar shakat jamaah yang saya mau, tapi berjumpa dengan orang ramai, berkenalan dan berbincang-bincang, itu adalah satu di antara misi perjalanan ini.

Sebab minda akan terbuka lebar, dada akan menjadi lapang, itu kalau kita bisa berjalan jauh dan berbincang denga beragam rupa manusia.

Seusai shalat dan berbincang mesra dengan beberapa orang di masjid tersebut, kami tak segera beranjak.

Saya masih ragu, telpon Ning Evi atau nggak. Telpon, nggak, telpon, nggak, telpooooon!

Akhirnya keputusan nelpon yang kami ambil. Maghrib sudah mendekat. Sebenarnya saya mau sekedar ngabari aja, bahwa saya di Lampung dan akan lanjut jalan menuju Palembang.

Tapi benar saja, sudah sampai Lampung, harus singgah. Harus ketemu!

“Pokok,e kedah buko ten ngeriki, Gus!” sergahnya.

Beberapa saat setelah telpon ditutup, beliau mengirim satu lokasi, yang ternyata setelah saya tuju, adalah warung makan.

Warung makan, masakan arab lagi. Makanya canda saya, “Iki adoh-adoh nang Lampung, makannya tetap kebuli.” secara saya yang hidup di tengah komunitas Arab, memang nyaris setiap hari makan kebuli, kabsyah, mandi dan sejenisnya.

Berfoto Di Ajib Kitchen

Kami sampai lebih dulu. Ning Evi tidak bisa segera berangkat, sebab beliau harus nunggu suaminya dulu. Tapi pas beberapa detik sebelum adzan Maghrib, Ning Evi dan Gus Haris, suaminya pun sampai.

Rupanya selain makanan yang sudah beliau pesan di resto ini, beliau juga membawakan kami aneka gorengan.

Dasar lapar, saya dan anak-anak makan dengan lahap. Sementara Gus Haris dan Ning Evi hanya makan sepiring berdua.

“Ning Evi lagi diet,” kata istri saya, saat saya meminta suami istri ini untuk juga makan banyak seperti kami.

“Jane iki sing tuan rumah sopo seh?”

Di sela-sela makan, sampai jauh seusai makan, kami berbincang banyak hal. Mulai pesantren sampai laut. Mulai ngaji sampai politik.

Bermacam tokoh Negeri pun tak luput menjadi perbincangan kami. Termasuk duo Ani-es: Matta dan Baswedan.

Peluang masing-masing mereka berdua utuk menjadi kandidat Capres pada 2024 yang akan datang.

Jokowi, Kiai Ma’ruf Amin kami bincang.

Muhammadiyah, NU dan lain sebagainya. Termasuk juga Habibana Riz1eq, kami bincang.

Secara Ning Evi ini memang Bu Nyai, juga seorang aktivis, banyak bergaul dengan ragam orang dan lintas kelompok.

Ning Evi juga adalah seorang pemandu acara pada satu tayangan di TV9, televisi kebanggaan orang NU.

Rasanya tak cukup waktu dua atau tiga jam berbincang dengan Ning Evi dan suaminya.

Beliau maksa kami untuk nginep di rumahnya. “Ada 25 kamar kosong yang kami siapkan untuk nJenengan,” katanya.

Tapi dengan segala cara kami menampik. Sebab perjalanan kami masih jauh, Aceh itu masih entah berada di mana. Takutnya kalau kelamaan di Lampung malah kami tidak bsia mencapai tempat-tempat lain.

Maka, kami mohon maaf kepada Ning Evi, karena kami telah menampik ajakan tulusnya. (Abrar Rifai)

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: