Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Ketika rindu mengecup bibir senja, degup semakin debar. Berkelebat semua bayang masa lalu.

Ingin memutar waktu, sekedar untuk kembali bermain di ayunan ibu. Ingin kembali memutar waktu, sekedar kembali berlarian di tepi pantai yang berpasir putih. Kayuaru, kampung pesisir yang begitu hening.

Magis. Sungguh bibir senja begitu mencabik sadar, bahwa kematian begitu dekat. Bahwa liang lahat adalah niscaya sebagai peraduan abadi. Bahwa tak ada sesiapapun yang akan berkekalan di dunia yang gaduh ini.

Senja selalu begini. Tak ada yang berubah, walau rambut sudah sebagian memutih. Bahkan saat kelak tak ada satu helaipun yang hitam, senja akan tetap seperti ini.

Senja menjadi jembatan antara siang dan malam. Antara terang dan gelap.

Senja memang remang. Tapi justru pada remang senja, mata hati begitu tajam melihat. Tak ada yang lepas, masa lalu ataupun masa hadapan, semuanya tampak terang.

Sungguh, Tuhan, kami hadir pada petang-Mu tetap dengan keimanan ini. Maka kami mohon, tetap jaga keyakinan kami akan kebenaran ini, hingga kelak senja tak lagi bisa kami saksikan.

Dalam remang, belibis pun berarak pulang ke sarangnya. Entah bila kita akan berpulang, itu tak penting.

Sebab yang terpenting adalah mempersiapkan diri menyambut datangnya waktu berpulang.

Agar kelak ketika tiba waktu berpulang, kita berada pada kondisi terbaik sebagai seorang hamba. (Abrar Rifai)

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: