Orang Ramai

Berita Cinta & Cerita

Jadi Dokter Ditulis dr Atau Dr?

Jadi Dokter Ditulis dr Atau Dr? by orangramai

Dokter Rahadi -dokter spesialis paru yang juga rajin menulis, beliau menulis namanya, Dr. Rahadi Widodo, Sp.P pada satu artikelnya yang tayang di www.orangramai.id. Saya pun bertanya, “Maaf, Mas Dokter itu doktor atau dokter, Dr atau dr? D-nya besar atau kecil?”

Dokter Rahadi menjawab, “Dokter, Ustadz, bukan doktor.”

Berikutnya Dokter Rahadi pun memberikan penjelasan panjang lebar terkait penulisan huruf ‘D’ pada gelar dokter. Jadi, mau nulis dokter pake ‘d’ huruf kecil atau ‘D’ huruf besar, seharusnya dua-duanya benar.

Kenapa begitu?

Di lingkup organisasi profesi (IDI dan PDPI), yang digunakan adalah dokter dengan ‘D’ huruf besar. “Sebagaimana yang tertulis di kartu anggota IDI saya,” kata Dr. Rahadi.

“Organisasi profesi menetapkan ketentuan sendiri mengenai hal itu,” lanjut dr. Rahadi.

Adapun di lingkup akademik, seperti penulisan ijazah dan lain-lain, yang dipakai adalah dokter dengan singkatan huruf ‘d’ kecil. Itu mengacu kepada ketentuan Kemendikbud lama tentang penulisan gelar sarjana.

Tapi IDI menganggap hal tersebut tidak lazim. Sebab itu berbeda sengan penulisan gelar kesarjanaan lainnya, yang semuanya memakai huruf kapital.

Cara penulisan dokter dengan memakai huruf ‘d’ kecil, menurut Dokter Rahadi, bisa menimbulkan kerepotan tersendiri bila gelar tersebut ditulis pada awal kalimat dalam suatu tulisan. Sebab itu melanggar azas penulisan yang benar. Karena seyogyanya, awal kalimat itu ditulis dengan huruf besar.

Ada banyak penjelasan dan argumentasi Dokter Rahadi yang sengaja tidak saya kutip di sini. Saya hanya ingin mengajari diri sendiri dan teman-teman lainnya, bahwa tidak semua yang kita tidak tahu itu adalah satu kesalahan.

Sebelumnya saya sempat ngotot bahwa yang benar itu singkatan dokter ditulis dengan huruf ‘d’ kecil. Sebab begitulah yang saya ketahui.

Begitu juga dengan teman-teman yang berkeyakinan bahwa saya ganteng, dengan hanya memandangi foto di laman Facebook. Padahal sekarang musim kamera jahat bergentayangan di mana-mana.

Baca Juga : Puasa dan Kesehatan Mental

Jadi, cobalah sesekali jumpa saya secara langsung. Setelah itu bersaksilah dengan kesaksian yang jujur. Bahwa ternyata kegantengan saya itu hoax semata.

Sama dengan orang-orang ngotot menyebut qunut shalat Subuh itu bidngah, tersebab pengetahuannya yang memang menyebutkan demikian. Padahal masih banyak pengetahuan yang belum mereka ketahui.

Serupa dengan perempuan yang membenci poligami, tersebab perasaan sendiri yang menganggap berbagi suami itu adalah deraan. Padahal begitu banyak perempuan lain, yang begitu bahagia dengan madunya di bawah pengayoman satu lelaki.

Saya ingin menutup catatan saya ini dengan cerita nyata seorang kawan, yang sekarang menjadi TU di sekolah kami. Sebut saja namanya Badriyah.

Badriyah ini dulu begitu tidak suka durian. Sampai-sampai ayah dan ibunya tidak berani makan duren di rumah, demi untuk menjaga perasaannya. Begitulah di lingkungan keluarga, Badriyah dikenal sebagai orang yang tidak suka duren.

Hingga akhirnya suatu hari, ketika ia bertandang ke rumah temannya, kebetulan teman-temannya sedang pesta duren.

Badriyah hanya melihat dari kejauhan. Dia tidak mau mendekat, sebab mencium baunya saja dia sudah muak. Tapi tak dia sangka, seorang teman menghampirinya, membawa satu biji duren.

Begitu sampai di depannya, teman tersebut dengan cepat sudah bisa menyampaikan duren ke mulut Badriyah. Badriyah tak sempat mengelak.

Perlahan dia coba resapi, berikutnya dia lanjutkan memakan durian tersebut hingga tuntas satu biji. Eit bijinya gak ikut ditelan, ding. 🙂

Nah, sejak saat itu Badriyah sudah tak benci durian. Dia sudah mau makan duren. Walau hingga kini belum sampai kepada tahap doyan, sebagaimana teman-temannya yang lain.

Jadi, cobalah mencari tahu sebelum Anda membuat keputusan. Apalagi dengan pengetahuan terbatas, janganlah banyak menyalahkan orang lain. (Abrar Rifai)

Pin It on Pinterest

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: